Jakarta — Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia setelah otoritas kesehatan India melaporkan beberapa kasus infeksi di negara bagian Bengal Barat akhir Januari 2026, memicu kewaspadaan global termasuk di Asia Tenggara. Situasi ini membuat banyak negara, termasuk Indonesia, memperketat pengawasan dan pemantauan masuknya potensi penyebaran virus mematikan ini.
Kondisi Global dan Ancaman Virus Nipah
Virus Nipah adalah patogen zoonosis (penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia) yang memiliki tingkat kematian tinggi, dengan angka fatalitas diperkirakan mencapai 40 sampai 75 persen menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan laporan media global.
Kasus terbaru di India dilaporkan menunjukkan beberapa infeksi terkonfirmasi, sebagian di antaranya melibatkan tenaga kesehatan, serta langkah karantina dan pelacakan kontak dilakukan oleh otoritas setempat sebagai respons cepat untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Karena virus ini belum memiliki vaksin dan pengobatan khusus yang tersedia secara luas, respons internasional terutama berfokus pada deteksi dini dan pencegahan melalui isolasi pasien dan pemantauan kontak erat.
Status di Indonesia: Belum Ada Kasus, Tapi Waspada Diperkuat
Hingga akhir Januari 2026, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menegaskan bahwa belum ditemukan kasus konfirmasi virus Nipah di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Kemenkes berdasarkan pemantauan situasi global dan data dari WHO bahwa Indonesia masih bebas dari infeksi manusia virus Nipah.
Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan kewaspadaan tinggi melalui pengawasan di pintu masuk negara dan fasilitas kesehatan untuk mencegah masuknya penyakit ini.
Penguatan Pengawasan di Pintu Masuk Negara
Salah satu langkah nyata Indonesia adalah memperketat pemeriksaan kesehatan pada kedatangan internasional, terutama di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten. Pusat Karantina Kesehatan Bandara (BBKK) telah memperkuat sistem pemeriksaan kesehatan dengan mengintegrasikan health declaration elektronik, pemeriksaan suhu tubuh, serta inspeksi visual terhadap penumpang yang tiba dari luar negeri.
Jika ditemukan penumpang dengan gejala yang mencurigakan, petugas kesehatan siap melakukan pemeriksaan lebih lanjut bahkan onboard atau inspeksi lanjutan sesaat setelah kedatangan.
Selain di bandara, koordinasi juga dilakukan dengan pihak karantina hewan untuk mencegah masuknya virus melalui jalur hewan pembawa seperti kelelawar, monyet, atau babi yang diketahui menjadi sumber potensial virus Nipah.
Epidemiolog Ingatkan Gejala dan Risiko
Para epidemiolog menekankan pentingnya mengenali gejala infeksi virus Nipah sebagai langkah pencegahan awal. Gejala awal yang biasanya muncul antara lain:
- Demam tinggi
- Sakit kepala
- Nyeri otot
- Mual dan muntah
- Sakit tenggorokan
- Kehilangan kesadaran atau gejala sistem saraf pada kasus berat
Gejala tersebut dapat berkembang cepat, bahkan dalam beberapa hari kondisi klinis bisa memburuk hingga menyebabkan peradangan otak (encephalitis) atau kegagalan pernapasan pada kasus berat.
Beberapa ahli juga menyoroti bahwa virus Nipah sering kali muncul tanpa gejala awal yang khas dan mudah disalahartikan sebagai penyakit umum, sehingga penting dilakukan surveillance yang efektif dan cepat.
Analisis Risiko dan Potensi Masuknya Nipah ke Indonesia
Menurut sejumlah pakar epidemiologi, meskipun belum ada kasus manusia di Indonesia, ancaman virus Nipah tetap nyata. Salah satu faktor yang memperkuat kekhawatiran adalah keberadaan kelelawar buah di berbagai wilayah Indonesia, yang merupakan reservoir alami virus tersebut. Interaksi manusia dengan satwa liar ini berpotensi meningkatkan risiko spillover (penularan dari hewan ke manusia).
Tidak hanya itu, sistem surveillance penyakit di Indonesia dinilai masih memiliki sejumlah tantangan yang perlu diperkuat agar potensi masuknya virus maupun kasus yang tidak terdeteksi dapat diminimalkan.
Imbauan bagi Masyarakat
Pemerintah dan otoritas kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan dan kesehatan, termasuk:
- Mencuci buah dan sayur hingga bersih sebelum dikonsumsi
- Mengupas buah terlebih dahulu, terutama yang berisiko terkontaminasi kelelawar
- Menghindari kontak langsung dengan hewan yang berpotensi menjadi pembawa virus
- Menerapkan protokol kesehatan dasar seperti cuci tangan, memakai masker jika sakit, dan menjaga jarak dengan orang yang menunjukkan gejala penyakit
- Memperhatikan informasi dan gejala kesehatan setelah bepergian dari luar negeri.
Kesimpulan
Walaupun virus Nipah belum terdeteksi di Indonesia, kondisi global yang menunjukkan kasus baru di kawasan Asia Selatan telah mendorong Indonesia untuk tetap siaga dan proaktif. Melalui perkuatan sistem pengawasan di pintu masuk negara, peningkatan surveillance kesehatan, serta edukasi masyarakat tentang gejala dan pencegahan, pemerintah berharap dapat meminimalkan risiko penyebaran di Indonesia.
Kewaspadaan tinggi, tanpa kepanikan, menjadi pesan yang ditekankan para ahli kesehatan dan epidemiolog kepada publik dalam menghadapi ancaman virus Nipah saat ini.