Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur — Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ketika seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS (10) ditemukan tewas akibat bunuh diri dengan cara gantung diri pada akhir Januari 2026. Kasus ini memicu perhatian luas publik dan pemerintah karena dugaan kuat keterkaitan antara tekanan ekonomi keluarga dan kondisi kesehatan mental anak.
Korban yang masih duduk di kelas IV SD itu diduga nekat mengakhiri hidup setelah ia kecewa karena tidak dibelikan pulpen dan buku tulis oleh ibunya, yang memang tidak memiliki cukup uang untuk memenuhi permintaan tersebut. Permintaan sederhana ini dianggap menjadi “puncak tekanan” bagi YBS, yang tinggal bersama neneknya karena ibunya harus menghidupi lima anak dari pekerjaan sebagai buruh serabutan.
Pakar: Kemiskinan Bukan Penyebab Tunggal
Ahli psikologi sosial menekankan bahwa kemiskinan sendiri bukanlah penyebab langsung bunuh diri, namun merupakan salah satu faktor risiko yang memperberat tekanan psikologis anak. Dalam pandangan ini, kemiskinan membuat keluarga hidup dalam situasi stres kronis, membatasi dukungan emosional yang bisa diberikan orang tua kepada anaknya.
Pakar menyatakan interaksi antara kondisi internal dan eksternal—seperti tekanan ekonomi, minimnya dukungan keluarga, serta rendahnya literasi kesehatan mental—bisa membuat tekanan kecil pada anak berubah menjadi beban psikologis yang besar.
Respon Pemerintah dan Organisasi
Kasus ini telah menjadi perhatian pemerintah pusat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menyatakan keprihatinan yang mendalam dan menegaskan bahwa insiden tersebut akan menjadi perhatian serius oleh pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat pendampingan sosial bagi keluarga kurang mampu.
Sementara itu, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), menyebut tragedi ini sebagai cambuk moral bagi seluruh pihak untuk lebih terbuka dalam menerima permintaan tolong dari siapa pun dan mencari akar permasalahan frustrasi sosial di lingkungan anak.
Selain itu, organisasi seperti Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengkritik kebijakan pendidikan nasional. Mereka menilai tragedi ini menjadi alarm kuat bahwa hak dasar pendidikan dan dukungan sosial bagi anak miskin belum terpenuhi secara memadai, karena anak harus kehilangan nyawa hanya karena kebutuhan belajar yang sederhana tidak terpenuhi.
Respons Keamanan dan Kesehatan Mental
Polda NTT telah mengirim tim konselor psikologi untuk mendampingi keluarga korban dalam proses berduka. Selain itu, Kementerian Kesehatan RI sedang melakukan pendalaman data bersama Dinas Kesehatan setempat untuk memahami secara lebih komprehensif kondisi kesehatan mental kelompok rentan seperti anak-anak di wilayah itu.
Catatan Sosial dan Pesan untuk Masyarakat
Para pakar sepakat bahwa tragedi ini bukan sekadar akibat permintaan yang tidak terpenuhi, tetapi merupakan refleksi dari tekanan sosial-ekonomi yang lebih luas, ditambah kurangnya dukungan sistemik terhadap kesehatan mental anak. Para ahli juga mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap perubahan perilaku anak, serta mendorong akses ke layanan kesehatan jiwa di komunitas dan sekolah.